Selasa, 25 November 2014

Jaringan Meristem



TUGAS ANATOMI TUMBUHAN
JARINGAN MERISTEM




OLEH
KELOMPOK I





MUHAMMAD TASYRIK        :
AINUL FUAD                           : 1214042002
RUSDIANTO                            : 1214041002
NUR INSANI HARIS                : 1214040011
HASMIKA                                 : 1214040017




UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI
2013

PENDAHULUAN

Jaringan ialah kumpulan sel-sel (protoplas yang berdinding) yang sama bentuk dan fungsinya. Jaringan diklasifikasikan menurut dasar yang berbeda, dapat berdasar asal usul, struktur atau fisiologi
Pada awal perkembangan tumbuhan, seluruh sel memiliki kemampuan membelah,  pada tahap selanjutnya pembelahan sel terjadi hanya dibagian-bagian tertentu. Jaringan yang masih memiliki kemampuan membelah (bersifat embrionik) disebut meristem. Pembelahan sel sebenarnya masih dapat terjadi pada jaringan lain tetapi jumlahnya terbatas.
Meristem adalah jaringan embrionik pada tubuh tumbuhan. Meristem senantiasa mempertahankan kemampuannya untuk membelah, sehingga sel baru senantiasa ditemukan pada tubuh tumbuhan.
 Jaringan meristem, memiliki ciri-ciri dinding sel tipis, bentuk sel isodiametris dibanding sel dewasa, jumlah protoplasma sangat banyak. Biasanya protoplas sel meristem tidak memiliki cadangan makanan dan kristal, sedangkan plastida masih pada tahap pro plastida. Pada Anggiospermae sel meristem memiliki vakuola kecil yang tersebar diseluruh protoplas.
Jaringan meristematik dapat diinduksi (dirangsang) pembentukannya, baik dengan melukai suatu bagian tubuh tumbuhan maupun dalam kultur buatan (dengan kultur jaringan). Jaringan meristematik yang terbentuk karena induksi ini dinamakan kalus. Meristem pucuk dan kambium biasanya adalah bagian yang paling mudah diinduksi untuk memperbanyak diri pada kultur jaringan.

MERISTEM
         
Jaringan ialah kumpulan sel-sel (protoplas yang berdinding) yang sama bentuk dan fungsinya. Jaringan diklasifikasikan menurut dasar yang berbeda, dapat berdasar asal usul, struktur atau fisiologi ( Campbell, 2008, Hal: 171).
Meristem adalah jaringan embrionik pada tubuh tumbuhan. Meristem senantiasa mempertahankan kemampuannya untuk membelah, sehingga sel baru senantiasa ditemukan pada tubuh tumbuhan.
Jaringan meristem memiliki ciri-ciri dinding sel tipis, bentuk sel isodiametris dibanding sel dewasa. Jumlah protoplas sel meristem tidak memiliki cadangan makanan dan kristal, sedangkan plastida masih pada tahap proplastida ( anonim, 2013 ).
          Pembelahan sel dapat pula terjadi pada jaringan selain dari meristem misalnya pada korteks batang dan pada jaringan pembuluh muda yang sedang mengalami perkembangan. Namun, pada jaringan ini jumlah pembelahan sel terbatas. Meristem melanjutkan pembelahan dirinya secara tak terbatas dan akibatnya sel-sel baru terus-menerus bertambah pada tubuh tumbuhan.
          Meristem dapat pula ditemukan pada fase istirahat sementara, misalnya pada tanaman yang menjadi dorman pada musim tertentu, dan pada kuncup aksilar yang mungkin tetap dalam keadaan dorman selama fase aktif tumbuhan tersebut.


A.   Klasifikasi meristem
 Klasifikasi meristem berdasarkan pada posisinya pada tubuh tumbuhan yaitu:
1.     Meristem apikal, terdapat pada ujung batang dan ujung akar,
2.     Meristem intekalar, terdapat diantara jaringan dewasa misalnya di pangkal ruas batang rumput-rumputan,
3.     Meristem lateral, terdapat sejajar keliling organ tempat jaringan ini ditemukan, misalnya kambium pembuluh dan kambium gabus. Meristem lateral juga berkembang dan menghasilkan pertumbuhan sekunder pada akar.
    Menurut asalnya, meristem dibedakan atas :
1.     Meristem primer, yang berkembang langsung dari embrionik dan
      sebab itu merupakan kesinambungan kegiatan embrio di tempat itu.
2.     Meristem sekunder, yang berkembang dari jaringan yang telah
     mengalami diferensiasi.
B.   Tahapan perkembangan meristem primer
Pada meristem primer ditemukan beberapa tahapan diferensiasi. Pada meristem apikal terdapat promeristem yang terdiri atas    pemula apikal bersama dengan sel turunannya. Daerah meristematik di bawahnya, terdiri atas tiga meristem yaitu :
1.     Protoderm, menghasilkan epidermis
2.     Prokambium, membentuk jaringan pembuluh primer
3.     Meristem dasar, membentuk jaringan dasar tumbuhan seperti parenkim dan sklerenkim
C.   Meristem apikal
Meristem apikal terdapat pada ujung akar dan ujung batang ( apeks pucuk ). Meristem apeks pucuk adalah bagian yang tepat diatas primorbium daun yang paling muda yang bersifat meristematik. Bentuk apeks pucuk dari arah memanjang, pada umumnya sedikit cembung dan dapat berubah-ubah  (anonim, 2013).
 Adapun struktur apeks pucuk pada beberapa kelompok tumbuhan adalah sebagai berikut :
          Apeks Pucuk Pteridophyta
Pteridophyta memiliki satu atau lebih sel pemula yang biasanya dapat dibedakan dengan mudah dari sel-sel yang berdekatan. Sel pemula ini menghasilakan sel apeks.
Apeks Pucuk Gymnospermae
          Gymnospermae dari kata (Yunani gymnos, telanjang, dan sperm, biji) dikelompokkan sebagai tumbuhan berbiji “telanjang” karena biji-bijinya tidak tertutup di dalam ruang. Spesies gimnospermae yang masih ada, yang paling akrab dengan kita diantaranya adalah konifera (Campbell, 2008, Hal:171). Ciri khas dari semua gymnospermae adalah arah pembelahan sel dipermukaan apeks pucuk adalah antiklinel dan periklinel sekaligus. Dengan demikian, lapisan teratas mewakili zona inisiasi seluruh apeks dinamakan meristem permukaan. Ciri lainnya, adalah sel induk sentral yang terdapat pada posisi median dibawah lapisan permukaan. Sel induk sentral ini relatif besar, polihidral, tersusun tidak beraturan dan dinding selnya tebal terutama di sudut sel. Dibagian dasar, pembelahan dengan bidang pembelahan horisontal secara berturut-turut menghasilkan meristem rusuk karena terbentuk sel dalam deretan sejajar sumbu yang rupanya seperti rusuk.
Apeks Pucuk Angiospermae
          Angiospermae , dari kata Yunani angion, wadah ) adalah klad besar yang terdiri atas semua tumbuhan berbunga. Biji angiospermae berkembang di dalam ruangan yang disebut ovarium, yang berasal di dalam bunga dan matang menjadi buah (Campbell, 2008, Hal:171). 
Hanstein (1868), mengemukakan teori histogennya, menurut teori ini pada angiospermae apeks pucuk dapat dibedakan atas tiga daerah yaitu :
a.     Dermatogen, daerah paling luar menghasilkan epidermis
b.     Plerom, daerah tengah menghasilkan silinder pusat
c.      Periblem, menghasilkan korteks.
Ketiga daerah tersebut berkembang dari tiga kelompok pemula yang terpisah dan berperan sebagai histogen.
Schmidt (1924), mengajukan teori tunika korpus, menurut teori ini ada dua daerah apeks yaitu tunika dan korpus. Kedua daerah ini dibedakan atas dasar bidang pembelahannya. Tunika terdiri
 







Gambar 1. Meristem apeks pucuk pada angiospermae
(Anonim, 2013)


             Gambar 2. Meristem apeks pucuk pada Coleus
(Anonim, 2013)
Apeks Reproduktif
                    Apeks reproduktif yang menghasilkan bunga dan brakte biasanya berkembang dari apeks vegetatif. Fungsi apeks vegetatif adalah menghasilkan pertumbuhan sumbu dalam arah panjang, sedangkan fungsi dari apeks reproduktif adalah membentuk daerah meristematik yang lebih luas, tempat berkembangnya berbagai bagian bunga.
          Apeks akar
                    Promeristem akar atau kadang-kadang radikula embrionik dapat dilihat di dasar hipokotil pada embrio biji yang telah matang. Biasanya zonasi apikal yang khas sudah dapat dilihat pada tahap ini. Promeristem akar lateral dan akar liar mempunyai bentuk yang serupa dengan akar primernya. Struktur promeristem akar telah ditelaah secara intensif agar dapat menemukan asal dari berbagai jaringan. Pada beberapa pteridophyta, seperti Equisentum, seluruh akarnya berkembang dari sel apikal tunggal. Sedangkan paku lainnya misalnya Marattiaceae, didapati beberapa sel-sel pemula.
          Penelitian terhadap perkembangan histogen pada apeks pucuk telah membuktikan hal tersebut tidak ada. Namun akar, masih banyak penulis yang memakai istilah dematogen untuk meristem epidermis, periblem untuk meristem korteks, dan plerom untuk silinder pusat. Dalam banyak hal lebih dari satu jaringan berkembang dari sekumpulan pemula sementara dan karena itu lebih disukai untuk menggunakan sebagai pengganti histogen. Sebutan protoderm, meristem korteks, dan meristem silinder pembuluh bagi meristem yang berasal dari promeristem, yaitu dari zona pemula permanen dan pemula sementara apeks akar.




 





Gambar 3. Bagan meristem apeks akar
(anonim, 2013)

 





Gambar 4. Sayatan memanjang meristem apeks pucuk
(anonim, 2013)
D.   Meristem interkalar
                    Meristem interkalar adalah turunan dari meristem apeks yang pada waktu tumbuhan sedang tumbuh, dipisahkan oleh apeks oleh daerah sel yang lebih dewasa. Pada batang yang memiliki meristem interkalar, daerah buku akan menjadi dewasa lebih awal ddan meristem interkalar terdapat dalam ruas. Mula-mula, sebagian ruas menjadi dewasa lebih cepat sehingga pada ruas tersebut ditemukan berbagai taraf perkembangan. Contoh terkenal untuk menunjukkan meristem interkalar adalah yang terdapat pada rumput-rumputan. Pada rumput, pemanjangan ruas dihasilkan oleh meristem interkalar yang membentuk deretan sel sejajar dalam ruas. Mula-mula kegiatan meristem interkalar terjadi diseluruh ruas, namun setelah perkembangan ruang atau lacuna dalam batang yang sering ditemukan pada poaceae, kegiatan itu terbatas pada daerah tepi dasar ruas, yakni didekat dan diatas buku.
   Gambar 6. Meristem interkalar pada batang bambu
 ( anonim 2013).
E.   Meristem Lateral
Meristem lateral terdapat  sejajar dengan keliling organ tempat jaringan ini ditemukan, misalnya, kambium pembuluh dan kambium gabus yang. Umumnya ditemukan pada Dicotyledoneae dan Gymnospermae. Pertumbuhan yang dihasilkannya disebut pertumbuhan sekunder
1.     Kambium pembuluh
Kambium pembuluh yaitu meristem sekunder yang berfungsi membentuk ikatan pembuluh (xylem dan floem) sekunder. Bentuk selnya seperti pipa atau berkas-berkas memanjang sejajar permukaaan batang atau akar. Meristem ini adalah meristem lateral karena terdapat di daerah lateral akar dan batang. Ciri-ciri selnya agak berbeda dengan sel meristem apeks (Anonim, 2013).
2.      Kambium gabus
Kambium gabus atau felogen adalah meristem yang menghasilkan periderm. Periderm adalah jaringan pelindung yang terbentuk secara sekunder dan menggantikan epidermis pada batang dan akar yang menebal karena pertumbuhan sekunder. Periderm mencakup felogen (cambium gabus) yaitu meristem yang menghasilkan periderm, felem ( gabus) yaitu jaringan pelindung yang dibentuk ke arah luar oleh felogen dan feloderm yaitu jaringan parenkim hidup yang dibentuk oleh felogen ke arah dalam (Anonim, 2013).


Gambar 5. Kambium gabus (Anonim, 2013)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2013.http:// goegle.jaringan meristem, pdf.com. Diakses 19 februari
      2013.
Campbell. 2008. Biologi Edisi 8 Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Muhammadiah, Asia. 2013. Anatomi Tumbuhan. Makassar.
            

Selasa, 11 November 2014

LAPORAN GAMETOGENESIS



A.  Dasar Teori
Gamet dihasilkan dalam gonad. Gamet jantan spermatozom dihasilkan dalam gonad jantan, disebut testis. Gamet betina ovum dihasilkan dalam gonad betina, disebut ovarium. Tahap perbanyakan (polifrasi) berlangsung secara mitosis berulang-ulang. Gametagonium membelah menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya. Gametogonium ini akan tumbuh, menjadi gametosit I. Gametosit I akan mengalami tahap pematangan, berlangsung secra miosis. Akhir miosis I membentuk gametosit II, perubahan berbentuk (transformasi) menjadi gamet (Yatim, 1994).
Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet, dikenal 2 tipe yaitu (1)spermatogenesis yang berlangsung pada ginad (testis) hewan jantan dan hasilnya adalh sperma (2) oogenesis yang berlangsung pada ovarium hewan betina dan hasilnya adalah ovum (Adnan dan Mu’nisa, 2013).
Gametogenesis dikontrol oleh hormon yang digetahkan tiga organ berikut: hipotalamus, hipofisa, dan gonad. Hipotalamus adalah bagian dasar otak yang berada di atas hipofisa. Kelenjar ini mengontrol pekerjaan gonad lewat pengontrolan hipofisa. Hipofisa menghasilkan hormon gonadotropin, yang bekerja mengontrol pekerjaan gonad. Selain menghasilkan gamet, gonad juga menghasilkan hormon kelamin: testosteron pada jantan, estrogen pada betina (Yatim, 2001).
Menurut Adnan (2008), gametogenesis melibatkan sejumlah perubahan-perubahan, baik pada kromosom maupun pada sitoplasma. Seumlah perubahan-perubahan tersebut bertujuan untuk:
1.    Mengurangi jumlah kromosom menjadi setengah jumlah normal dalam sel somatik melalui pembelahan meiosis. Pembelahan meiosis dimasukkan agar individu baru yang dihasilkan tidak memiliki jumlah kromosom yang lipat dua kali dari induknya.
2.    Mengubah bentuk sel-sel kelamin sebagai persiapan untuk pembuahan. Sel kelamin pria mula-mula besar dan bulat, praktis kehilangan semua sitoplasmanya dan membentuk kepala, leher dan ekor. Sel benih wanita sebaliknya berangsur-angsur menjadi lebih besar akibat terjadinya prtambahan sitoplasma. Pada saat mencapai kematangan, oosit kira-kira berukuran 120 µm.
Spermatogenesis dimulai dengan pembuahan spermatogenium menjai sel yang lebih besar yang disebut spermatosit primer. Sel-sel ini membelah(pertama secara mitosis) menjadi dua spermatosit sekunder yang sama besar, yang kemudian mengalami pembelahan meiosis menjadi empat spermatid yang sama besar pula. Spermatid ini adalah sebuah sel bundar dengan sejumlah sitoplasma, merupakan gamet dewasa dengan sejumlah kromosom haploid. Suatu proses pembuahan dan diferensiasi yang rumit, tetapi bukan merupakan pembelahan sel. Mengubah spermatid menjadi sperma yang fungsional. Ovum atau telur berkembang dalam ovarium dalam sel kelamin yang belum dibuahi yaitu oogenium. Dalam perkembangan awal, oogenium mengalami banyak pembelahan meiosis yang berurutan untuk membentuk oogenium tambahan yang kesemuanya mempunyai jumlah kromosom yang haploid. Beberapa atau semua oogonium berkembang menjadi oosit primer dan memulai pembelahan meiosi pertama (Barnes, 2005).
Oogenesis berbeda dari spermatogenesis dalam tiga hal penting. Pertama, selama pembelahan miosis oogenesis, sitokinesis bersifat tidak sama (unequal), dengan hampir semua sitoplasma dimonopoli oleh satu sel anak, yaitu oosit sekunder. Sel besar tersebut dapat terus berkembang menjadi ovum; produk lain miosis, yaitu sel yang lebih kecil yang disebut badan polar (polar body) akan mengalami degenerasi. Hal tersebut berbeda dari spermatogenesis, ketika keempat produk miosis I dan II berkembang menjadi sperma yang dewasa. Kedua, sementara sel-sel asal sperma berkembang terus membelah melalui mitosis sepanjang hidup laki-laki, hal ini tidak berlaku bagi oogenesis pada betina. Saat lahir, ovarium telah mengandung semua sel yang akan berkembang menjadi telur. Ketiga, oogenesis mempunyai periode “istirahat” yang panjang, berlawanan dengan spermatogenesis yang menghasilkan sperma dewasa dari sel prekursor dalam urutan yang tidak berhenti (Campbell, 2010).
Proses yang bersangkutan dengan perkembangan spermatozoa terdiri dari (1) suatu reduksi pengurangan dalam jumlah kromosom dari jumlah diploid atau jumlah somatik (46 pada manusia) menjadi jumlah haploid atau jumlah sel benih (23 pada manusia) dan (2) pembentukan sel motil (yang dapat bergerak) yang memanjang dan berekor dari spermatogenia primitif yang berbentuk bulat telur (Bevelander, 1998).
Seperti halnya pada testis, maka strukrur ovarium sangat beraneka ragam. Pada sejumlah hewan, terutama vertebrata, oogonium dan oosit sdikelilingi oleh selapis sel folikel. Pada manusia hal ini terjadi pada awal perkembangan fesus dan menjelnag bulan ketiga oogenium mulai berkembang menjadi oosit sekunder (Villee, 1984)
Dalam tahap pertama perkembangan folikel terjadilah folikel primer yang berasal dari satu sel epitel benih yang membelah diri. Sel yang nantinya aka menjadi ovum (telur) berada di tengah-tengah dikelilingi oleh sel-sel kecil hasil pembelahan tadi. Sel-sel kecil ini merupakan lapisan sel yang tebal yang disebut membrane granulose. Folikel perimer ini kebanyakan berada langsung di bawah kulit ovarium yang tipis sekali dan disebut tunika albuginea. Folikel primer ini dapat dibedakan dari folikel sekunder dari letaknya dan membrane yang membungkus ovumnya. Folikel primer terletak dekat atau melekat pada permukaan ovarium dan ovanya tidak terbungkus oleh membrane viteline (Partodiharjo, 1987).
B.  Tujuan Praktikum
Untuk mempelajari proses pembentukan sel kelamin jantan dan betina melalui pengamatan preparat histologi.
C.  Prosedur Kerja
1.    Mengamati preparat testis di bawah mikroskop dengan menggunakan pembesaran lemah dan pembesaran kuat.
2.    Menggambar sebuah tubulus seminiferus beserta sel-sel germa yang berkembang di dalamnya.
3.    Mengamati preprat ovarium di bawah mikroskop dengan menggunakan pembesaran lemah dan pembesaran kuat.
4.    Menggambar masing-masing folikel telur yang berkembang di dalamnya dan menyebutkan bagian-bagiannya dengan lengkap.
D.  Hasil Pengamatan
1.    Pengamatan pertama pada preparat histologi testis mencit jantan
Proses Spermatogenesis
Gambar Pengamatan
Keterangan

1.    Spermatogonium
2.    Mitosis
3.    Spermatosis primer
4.    Miosis I
5.    Spermatosis sekunder
6.    Miosis II
7.    Spermatid
8.    Sperma

Spermatozoa
Gambar Pengamatan
Gambar Pembanding
Keterangan

http://medicalterms.info/img/uploads/anatomy/spermatozoa.jpg
Sumber: www.medicalterms.info. com 

1.    Akrosom
2.    Nukleus
3.    Sentriol
4.    Mitokondria
5.    Ekor
6.    Leher
7.    Kepala

2.    Pengamatan kedua pada preparat histologi ovarium mencit betina
Proses Oogenesis
Gambar Pengamatan
Keterangan


1.         Oogonium (diploid)
2.         Mitosis
3.         Oosit primer
4.         Miosis I
5.         Oosit sekunder
6.         Polar I
7.         Miosis II
8.         Ootid (haploid)
9.         Polar II
10.     Ovum (haploid)

Folikel Ovum
Gambar Pengamatan
Gambar Pembanding
Keterangan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSl12xUkGwzrg6WT-nXULJbFfOEify7Anc0nhx_J2aR-1yowH6pRgWbOX9fum86LGSJ3BpZVvA2Kv9svCY12bkL-KFUpZPkyle2XM-I-Gc7X_5DB791ehjXBakXTdHvMr6pc6-fBQ_saA/s1600/46-13b-Oogenesis-L.jpg
Sumber: www.ebiogene.blogspot.com 

1.    Folikel primer
2.    Folikel sekunder
3.    Folikel tersier
4.    Folikel de graaf

E.  Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami mengamati prose pembentukan gamet yaitu spermatogenesis pada hewan jantan dengan mengamati preparat histologist testis mencit jantan dan oogenesis pada hewan betina dengan mengamati preparat awetan ovarium mencit betina.
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa gametogenesis merupakan pembentukan sel kelamin, dimana pembentukan sperma disebut spermatogenesis dan pembentukan ovum disebut oogenesis.
Adapun tahap-tahap pembentukan spermatogenesis dan oogenesis pada menci (Mus musculus) adalah sebagai berikut:
1.    Pengamatan pertama pada preparat histologi testis mencit jantan
Pengamatan terhadap preparat histologi testi mencit, dapat kita amati bagian-bagiannya yaitu tubulus seminiferus. Dimana pada bagian tubulus seminiferus tersebut dapat diamati bagian lumen, sel-sel spermatosit dan sperma. Spermatogenesis berlangsung di dalam testis tepatnya pada dinding tubulus seminiferus. Proses spermatogenesis berlangsung dari tepi ke bagian dalam (lumen). Maka sesuai dengan teori dari Adnan dan Mu’nisa (2013),  tahapan proses spematogenesis adalah sebagai berikut:
a)    Spermatogonium yaitu sel-sel yang mengawali proses spermatogenesis dan berasal dari sel-sel kecambah (germinal) primordial testis embrio. Sel ini berada pada bagian basal dinding tubulus semineferus dan memiliki ukuran relatif kecil, bentuk agak oval, inti berwarna kurang terang, terletak berderet di dekat/melekat pada membran basalis.
b)   Spermatosit Primer yaitu sel-sel spermatogonium yang berdifferensiasidan memiliki ukuran paling besar, bentuk bulat, inti berwarna kuat, letak agak menjauh dari membrane basalis.
c)    Spermatosit Sekunder yaitu sel-sel yang berasal dari differensiasi spermatosit primer dan memiliki ukuran agak kecil (setengah kali dari spermatosit I), bentuk bulat, warna inti lebih kuat, letak makin menjauhi membrane basalis (mendekati lumen).
d)   Spermatid yaitu sel-sel yang berasal dari differensiasi spermatosit sekunder dan memiliki ukuran kecil, bentuk agak oval, warna inti kuat, kadang-kadang piknotis, letak di dekat lumen.
e)    Spermatozoid: Spermatozoa muda melekat secara bergerombol pada sel sertoli, yang muda terdapat di dalam lumen, sel-sel sertoli berperan memberi nutrisi bagi spermatozoa.
Selain proses spermotogenesis yang diamati, kami juga mengamati spermatozoa yang dihasilkan oleh spermatogenesis dari testis mencit jantan, dimana bagian-bagiannya yaitu kepla, leher, ekor, akrosom, sentriol. mitokondria dan nukleus.
2.    Pengamatan kedua pada preparat histologi ovarium mencit betina
Oogenesis adalah proses pembentukan gamet betina atau sel telur yang berlangsung di dalam gonad betina atau ovarium. Mula-mula oogenia mengalami poliferasi secara mitosis, kemudian tumbuh menjadi oosit primer lalu memasuki tahapan pematangan (miosis). Pembelahan miosis pertama menghasilkan satu sel spermatosit sekunder, dan satu sel polosit atau badan polar pertama. Pada pembelahan miosis kedua, oosit sekunder membelah menghasilkan satu sel ootid dan satu badan polar pertama atau polosit. Badan polar sering kali mengalami denegenrasi sebelum memasuki pembelahan miosis kedua. Pada oogenesis, sel germa berkembang di dalam folikel telur. Berdasarkan teori dari Adnan dan Mu’nisa (2013),  Folikel telur dibedakan atas dua jenis:
a)    Folikel primordial, merupakan folikel yang terdapat sebelum lahir yang diliputi oleh satu lapisan se-sel berbentuk pipih.
b)   Folikel tumbuh, memiliki folikel yang sedang tumbuh yang terdiri atas sel-sel folikel, oosit primer dan stroma yag menelilingi folikel. Dimana folikel tumbuh ini terdiri dari:
·      Folikel primer: terdiri dari sebuah oosit yang dilapisi oleh selapis sel folikel yang dipisahkan oleh zona pellusida.
·      Folikel sekunder: terdiri dari sebuah oosit I yang dilapisi oleh beberapa sel granulose.
·      Folikel tersier: volume stratum granulosum yang melapisi oosit I bertambah besar atau banyak. Terdapat beberapa celah diantara sel-sel granulose. Jaringan ikat stroma yang terdapat diluar stratum granulosum menyusun diri membentuk teka interna yang berperan dalam jaringan penyambung bagian dalam dan teka eksterna berperan sebagai jaringan penyambung bagian luar.
·      Folikel matang (folikel Graff): berukuran paling besar, antrum menjadi sebuah rongga besar yang berisi cairan folikel. Oosit dikelilingi oleh sel granulose yang disebut corona radiate yang berfungsi sebagai pelindung oosit pada saat ovulasi, saat-saat pembuahan, dan pada saat bergerak di dalam tuba fallopi, selanjutnya dihubungkan oleh sel-sel granulose tetapi oleh tangkai penghubung yang disebut Cumulus ooforus.
F.   Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan maka dapat disimpulkan bahwa proses pembentukan sel kelamin jantan dan betina disebut juga Gametogenesis. Proses gametogenesis terdiri atas dua pembentukan yaitu Spermatogenesis dan Oogenesis, terdiri atas beberapa tahap antara lain:
1.    Spermatogenesis yang terjadi di testis mencit jantan memiliki beberapa tahap yaitu spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa.
2.    Oogenesis yang terjadi pada ovarium mencit betina memiliki beberapa tahap yang meliputi oogonium, oosit primer, oosit sekunder, ootid an ovum. Dalam oogenesis sel germa berkembang didalam folikel telur yakni folikel primordial, folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier, dan folikel matang (folikel Graff).
G. Saran
 Saran untuk laboran untuk kedepannya yaitu hendaknya mempersiapkan bahan-bahan dan alat yang lebih baik dan baru, agar pelaksanaan praktikum dapat lebih maksimal. Serta untuk praktikan agar tetap menjaga kebersihan dalam ruangan praktikum.


DAFTAR PUSTAKA
Adnan dan Mu’nisa. 2013. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Adnan. 2008. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Barnes. 2005. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga.

Bevelander, dkk. 1988. Dasar-dasar Histolgi. Jakarta: Erlangga.

Campbell, Reece, dan Mitchel. 2010. Biologi Edisi 5 Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Partodihardjo, Soebadi. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.

Villee, Walker, dan Barnes. 1984. Zoology umum edisi keenam jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Yatim, Wildam. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito: Bandung.